Apa Itu CRP Test
CRP atau C-Reactive Protein merupakan protein yang diproduksi oleh hati dan dikeluarkan dalam jumlah besar ketika terjadinya infeksi. Pemeriksaan CRP dilakukan untuk memeriksa kadar C-reactive protein atau CRP di dalam darah.
Pemeriksaan CRP banyak dilakukan untuk mendiagnosis penyakit yang ada hubungannya dengan peradangan seperti infeksi, penyakit autoimun, penyakit kardiovaskular, hingga kanker. Peradangan itu sendiri merupakan respons kekebalan tubuh manusia terhadap luka/ penyakit tertentu.

Untuk melakukannya, sampel darah diambil langsung dari pembuluh darah vena melalui penyuntikan jarum. Setelah itu darah yang diperoleh akan diletakkan ke dalam wadah penyimpanan. Sampel darah ini kemudian akan melalui proses analisir kadar CRP di laboratorium.
CRP test yang lebih sensitif dinamakan high-sensitivity C-reactive protein (hs-CRP).
Cara Membaca
CRP 0,3 - 1,0 mg/L
Protein C-reaktif diukur dalam mg/L, satuan miligram per liter darah, dan kadar CRP yang normal adalah kurang dari 0,3 mg/L. Jika nilai CRP 0,3 - 1,0 mg/L dan orangnya tak merasakan gejala apapun maka secara umum nilai CRP ini masih dianggap normal.
Meskipun begitu, peningkatan CRP yang tergolong ringan ini juga bisa kadang menandakan adanya peningkatan resiko untuk kenanya penyakit kardiovaskular. Tidak hanya itu, nilai CRP dalam rentang demikian bisa juga terjadi terhadap orang-orang yang sedang kena radang gusi, flu, ataupun periodontitis. Selain itu kadar CRP yang sedikit naik pun bisa dialami oleh para penderita depresi, obesitas, atau diabetes.
CRP 1,0 - 10 mg/L
Dalam rentang nilai CRP ini bisa juga memberi indikasi bahwa adanya resiko terkenanya penyakit kardiovaskular seperti stroke dan jantung. Selain itu, peradangan yang disebabkan oleh bronkitis, pankreatitis, serta penyakit autoimun seperti lupus dan rheumatoid arthritis juga biasanya ditandai dengan nilai CRP yang naiknya hingga lebih dari 3 mg/L.
CRP lebih dari 10mg/L
Jika nilai CRP seseorang melebihi 10mg/L maka ini menandakan terjadinya peradangan atau kondisi yang serius pada tubuh. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa kondisi seperti infeksi berat (misalkan pneumonia, meningitis, sepsis, osteomielitis, dan peritonitis), radang panggul, radang usus, demam rematik, kanker, usus buntu, ataupun gangguan autoimun.
Selain kondisi yang baru disebutkan diatas, peningkatan kadar CRP ini bisa terjadi oleh seseorang yang baru saja menjalankan operasi, wanita yang memakai kontrasepsi hormonal, dan perokok berat.
Perlu diketahui juga bahwa pemeriksaan CRP tidak bisa digunakan untuk mengecek penyebab atau lokasi peradangan pada tubuh. Ini sebabnya mengapa dokter akan memerlukan pemeriksaan penunjang lain seperti tes urine, tes darah lengkap, pemeriksaan radiologi dan pemeriksaan antibodi.
| Home | Cara Membeli | Contact Us | About Us | Sitemap | BanSos |

